Innalillahi wa inna ilaihi
rajiuun, kita telah kehilangan lagi seorang tokoh mantan Ketum PBNU KH Hasyim
Muzadi, Allahummaghfir Lahu warhamhu wa 'afihi wa'fu 'anhu.
” Selamat jalan wahai
guruku., Selamat menikmati kehidupan
baru dalam taman surga. Air mata penuh cinta mengiringi senyumanmu menghadap
Tuhanmu. Engkau rawat kami dengan teladan yang indah. Mohon maaf jika kami tidak
tumbuh seindah yang engkau bayangkan….Canda tawamu akan selalu terkenang.
Istirahatlah senyaman pengantin… Semoga Allah selalu menyayangimu.
Beliau adalah seorang tokoh Muslim
yang dikenal sebagai tokoh moderat dan toleran, tanpa pernah harus meninggalkan
prinsip-prinsip agama. Baginya, sikap moderat dan toleran tidak boleh
mengorbankan aqidah. Berikut adalah biografi KH. Hasyim Muzadi .
Nama lengkap beliau adalah KH.
Ahmad Hasyim Muzadi. Lahir di Bangil Tuban - Jawa Timur pada tanggal 8 Agustus
1944 . Ayah beliau bernama H. Muzadi dan Ibunda beliau bernama Hj. Rumyati.
Sedangkan istri beliau bernama Hj. Mutammimah.
Beliau dalah mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU),
organisasi keagamaan terbesar di Indonesia. Ia pernah menjadi pengasuh pondok
pesantren Al-Hikam, Malang, Jawa Timur.
PENDIDIKAN
- Madrasah lbtidaiyah Tuban-Jawa
Timur, Tahun 1950-1953
- SD Tuban-Jawa Timur, Tahun
1954-1955
- SMPN I Tuban-Jawa Timur, Tahun
1955-1956
- KMI Gontor, Ponorogo-Jawa
Timur, Tahun 1956-1962
- PP Senori, Tuban-Jawa Timur,
Tahun 1963
- PP Lasem-Jawa Tengah, Tahun
1963
- IAIN Malang-Jawa Timur, Tahun
1964-1969
- Bahasa, Tahun 1972-1982
PENGALAMAN KARIR
- Membuka Pesantren Al-Hikam di
Jalan Cengger Ayam, Kodya Malang.
- Anggota DPRD Kotamadya Malang
dari PPP.
- Dosen Sekolah Tinggi Agama
Islam Negeri (STAIN), Malang.
- Anggota DPRD Tingkat I Jawa
Timur 1986-1987.
- Anggota DPRD Tingkat II
Malang-Jawa Timur.
KARIR PENGALAMAN ORGANISASI
- PII ( Pelajar Islam Indonesia
), Tahun 1960 – 1964
- Ketua Ranting NU
Bululawang-Malang
- Ketua Anak Cabang GP Ansor
Bululawang-Malang, Tahun 1965.
- Ketua Cabang PMII Malang, Tahun
1966.
- Ketua KAMI Malang, Tahun 1966.
- Ketua Cabang GP Ansor Malang,
Tahun 1967-1971.
- Wakil Ketua PCNU Malang, Tahun
1971-1973.
- Ketua DPC PPP Malang, Tahun
1973-1977.
- Ketua PCNU Malang, Tahun
1973-1977.
- Ketua PW GP Ansor Jawa Timur,
Tahun 1983-1987.
- Ketua PP GP Ansor, Tahun
1985-1987.
- Sekretaris PWNU Jawa Timur,
Tahun 1987-1988.
- Wakil Ketua PWNU Jawa Timur,
Tahun 1988-1992.
- Ketua PWNU Jawa Timur, Tahun
1992-1999.
- Ketua Umum PBNU, Tahun
1999-2004.
- Ketua Umum PBNU, Tahun
2004-2010.
- Anggota DPRD Tingkat II
Malang-Jawa Timur.
- Anggota DPRD Tingkat I Jawa
Timur, Tahun 1986-1987.
KEHIDUPAN BELIAU
Kiai Hasyim, begitu ia akrab
disapa, menempuh jalur pendidikan dasarnya di Madrasah Ibtidaiyah di Tuban pada
tahun 1950, dan menuntaskan pendidikannya tingginya di Institut Agama Islam
Negeri IAIN Malang, Jawa Timur pada tahun 1969. Pria yang lahir di Tuban pada
tahun 1944 ini, nampaknya memang terlahir untuk mengabdi di Jawa Timur. Sederet
aktivitas organisasinya ia lakoni juga di daerah basis NU terbesar ini.
Organisasi kepemudaan semacam
Gerakan Pemuda Ansor (GP-Ansor) dan organisasi kemahasiwaan Pergerakan
Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pernah ia pimpin. Hal inilah yang menjadi
struktural menjadi modal kuat Hasyim untuk terus berkiprah di NU.
Kiprah organisasinya mulai dikenal
ketika pada tahun 1992 ia terpilih menjadi Ketua Pengurus Wilayah NU (PWNU)
Jawa Timur yang terbukti mampu menjadi batu loncatan bagi Hasyim untuk menjadi
Ketua PBNU pada tahun 1999.
Banyak yang mafhum, sebagai
organisasi keagamaan yang memiliki massa besar, NU selalu menjadi daya tarik
bagi partai politik untuk dijadikan basis dukungan. Hasyim pun tak mengelak
dari kenyataan tersebut. Tercatat, suami dari Hj. Muthomimah ini pernah menjadi
anggota DPRD Tingkat I Jawa Timur pada tahun 1986, yang ketika itu masih
bernaung di bawah Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Namun, jabatan sebagai Ketua Umum
PBNU lah yang membuat Hasyim mendadak menjadi pembicaraan publik dan laris
diundang ke berbagai wilayah. Bisa dikatakan, wilayah aktivitas alumni Pondok
Pesantren Gontor Ponorogo ini tidak hanya meliputi Jawa Timur, namun telah
menasional. Basis struktural yang kuat itu, masih pula ditopang oleh modal
kultural yang sangat besar, karena ia memiliki pesantren Al-Hikam, Malang, yang
menampung ribuan santri.
Hasyim dikenal sebagai sosok kiai
yang memosisikan dirinya sebagai seorang pemimpin Indonesia. Selain sebagai
ulama, sosok Hasyim dikenal "nasionalis dan pluralis". Itu sebabnya,
ketika terjadi peristiwa Black September, yakni tragedi runtuhnya gedung WTC di
Amerika Serikat, yang menempatkan umat Islam sebagai pelaku teroris, kiai yang
dikaruniai enam orang putra ini, tampil dengan memberikan penjelasan kepada
dunia internasional bahwa umat Islam Indonesia adalah umat Islam yang moderat,
kultural, dan tidak memiliki jaringan dengan organisasi kekerasan
internasional. Ia adalah sekian dari tokoh umat di Indonesia yang dijadikan
referensi oleh dunia barat dalam menjelaskan karakteristik umat Islam di
Indonesia.
Integritas Hasyim yang lintas
sektoral kini diuji. Ijtihad politik pria berusia 60 tahun ini yang menerima
lamaran PDI Perjuangan untuk menjadi cawapres, merupakan bagian dari sosok
dirinya yang moderat."Saya ingin menyatukan antara kaum nasionalis dan
agama",” ujarnya ketika berorasi dalam deklarasi pasangan capres dan
cawapres Megawati-Hasyim Muzadi.
Walaupun memang, tak sedikit yang
mencibir dan menyayangkan langkah Hasyim yang terjun ke politik praktis,
termasuk dengan pewaris darah biru kaum nahdliyin, Gus Dur. Bahkan, langkah
politik pria yang selalu berpeci ini telah menguak perseteruan dirinya dengan
Gus Dur yang telah terpendam lama. Namun di atas segalanya, hanya Hasyim yang
tahu persis, makna di balik langkah politik menuju kursi kekuasaan yang kini
tengah dirintisnya.
NU MENURUT BELIAU : 'NU BUKAN
DEMI KEKUASAAN'
NU sebagai ormas terbesar dengan
jumlah anggota mencapai 35 juta orang, warga NU tidak boleh dipertaruhkan untuk
kepentingan sesaat. Kebesaran nama baik NU, bagi Muzadi, tidak boleh
dipertaruhkan demi kepentingan kekuasaan. Ia juga ingin menjaga agar Umat
Islam, terutama kaum nahdliyin, tidak terkotak-kotak dalam politik aliran.
Namun, bila ada warga NU yang ingin aktif di politik, sama sekali tidak ada
halangan. Tetapi, tidak membawa bendera NU secara kelembagaan dalam kiprah
politiknya. Paling tidak, hal itu berlaku untuk masa sekarang.
Namun menurutnya, sepanjang
mereka membawa visi nasional Indonesia secara utuh, akan disambut baik. NU akan
merespons siapapun ketika yang dibicarakan itu masalah nasional dan utuh.
Ketika mereka melakukan (atau) tampil sebagai partisan politik, itu ya terserah
anggota saya, mau pilih atau tidak. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama
(NU) KH Hasyim Muzadi dalam menjalankan organisasinya memiliki prinsip bahwa NU
tidak akan berpolitik praktis dengan mengubah diri menjadi partai politik
(parpol) pada Pemilu 2004. Menurut dia, pengalaman selama 21 tahun sebagai
partai politik cukup menyulitkan posisi NU.
Pengalaman pahit selama 21 tahun
menjadi partai politik periode 1952 sampai 1973, kata Muzadi menjadi
pertimbangan signifikan dari pengurus besar untuk mengubah bentuk organisasi
itu. Waktu itu, kata Muzadi yang sempat menjadi Ketua NU Cabang Malang, kerja
orang-orang NU hanya memikirkan kursi legislatif. Sementara kerja NU lainnya
seperti usaha memajukan pendidikan dan intelektual umat terabaikan. Menjelang Pemilu
2004, NU didorong oleh berbagai kelompok untuk menjadi partai politik. Desakan
menjadi parpol juga datang dari kelompok dalam NU (kalangan nahdliyin), tetapi
sikap NU tidak goyah. Politik merupakan salah satu kiprah dari sekian banyak
sayap NU. Di mata Muzadi, partai politik erat kaitannya dengan kekuasaan dan
kepentingan, sementara sifat kekuasaan itu sesaat. Di sisi lain NU dituntut
memelihara kelanggengan dan kiprah sosialnya di masyarakat. Oleh karena itu, NU
akan menolak setiap upaya perubahan menjadi partai politik.
Mengenai pemimpin bangsa, menurut
Muzadi, NU itu tidak berpikir bagaimana mengajukan calon dari NU. Tapi, yang
dipikirkan, adakah calon dari mana pun yang mampu melakukan recovery,
penyembuhan terhadap Indonesia. Hal itu menurutnya harus lebih dulu dipikirkan
daripada intern NU, apalagi ramai-ramai membuat NU terjun langsung di dunia
politik.
Munculnya konflik di Indonesia,
terutama yang membawa-bawa nama agama hingga pemerintah dan aparat kewalahan
menanganinya merupakan masalah serius yang harus diselesaikan. Bila menyangkut
konflik antaragama, ia mengatakan NU telah melakukan dialog lintas agama.
Sebab, tidak mungkin masalah itu selesai hanya dengan peran satu kelompok saja.
Harus melibatkan keduanya. Itu bila konflik ingin dituntaskan.
Hasyim dikenal sebagai sosok kiai
yang cukup tulus memosisikan dirinya sebagai seorang pemimpin Indonesia. Selain
sebagai ulama, sosok Hasyim cukup “nasionalis” dan pluralis. Apa saja yang
dianggap perlu bagi agama, Indonesia, dan NU, Hasyim ikhlas melakukan. Itu
sebabnya, dalam kunjungan di AS ini, Hasyim benar-benar seperti mengabdikan
diri bagi kepentingan lebih besar. Salah satunya ia tunjukkan dalam bentuk
memberikan penjelasan kepada dunia internasional bahwa umat Islam Indonesia
adalah umat Islam yang moderat, kultural, dan tidak memiliki jaringan dengan
organisasi kekerasan internasional.
Ketika terjadi peristiwa
ditabraknya gedung WTC 11 September 2001, di mana AS langsung menuduh gerakan
Al Qaeda sebagai pelakunya dan menangkapi orang-orang dan kelompok Islam yang
diduga terkait dengan jaring Al Qaeda, posisi Islam moderat Indonesia luput
dari tuduhan. Namun hal itu bukan berarti persoalan selesai. Hasyim Muzadi
memiliki pandangan, dunia internasional perlu mengetahui kondisi Islam di Indonesia
dan perilaku mereka yang tidak menyetujui tindak kekerasan.
Untuk itu perlu upaya komunikasi
dengan dunia luar secara intensif. Tak terkecuali dengan AS. Makin banyak dan
intens komunikasi maupun kontak ormas-ormas moderat Indonesia dengan internasional
dan AS, itu makin positif. Apalagi, di tengah keterpurukan ekonomi, sosial, dan
keamanan di Indonesia saat ini, kerja sama internasional jauh lebih berfaedah
daripada keterasingan internasional. Hasyim Muzadi pun menjadi tokoh yang
mendapat tempat diundang pemerintah AS untuk memberi penjelasan tentang
pemahaman masyarakat Islam di Indonesia. Ia cukup gamblang menjelaskan peta dan
struktur Islam Indonesia. AS beruntung mendapat gambaran itu langsung dari
ormas muslim terbesar Indonesia. Indonesia juga bersyukur karena seorang tokoh
ormas muslimnya menjelaskan soal-soal Islam Indonesia kepada pihak luar. “Saya
gambarkan, umat Islam di Indonesia itu pada dasarnya moderat, bersifat
kultural, dan domestik. Tak kenal jaringan kekerasan internasional,” ujar Hasyim.
Soal kelompok-kelompok garis
keras di Indonesia-betapapun jumlah dan kekuatannya cuma segelintir-Hasyim
mengingatkan AS bahwa mengatasinya harus tidak sembarangan. Jangan sekali-kali
menggunakan represi. Bukan hanya kontraproduktif, tapi bisa memunculkan
radikalisme betulan. Sekali AS bertindak, seperti dilakukannya di Afghanistan
atau negara-negara Timur Tengah, dengan intervensi langsung, hasilnya bisa
runyam. Indonesia tidak bisa dipukul rata dengan Timur Tengah atau
negara-negara lain.
Apa alternatif pendekatannya jika
represi ditanggalkan? “Saya minta supaya pendekatannya pendekatan pendidikan,
kultural, dan social problem solving. Dijamin, gerakan-gerakan kekerasan akan
hilang,” tutur Hasyim.
Di sisi lain, AS sadar perlunya
menggalang pengertian dan kerja sama dengan Islam moderat di dunia. Di AS
sendiri, ada sekitar 5 juta penganut Islam dan kini menjadi agama yang paling
cepat pertumbuhannya dibandingkan agama-agama lain. Muzadi juga mengakui,
pejabat AS memang memiliki pandangan sendiri tentang masa depan, dunia Islam,
dan terorisme. Namun banyak senator AS yang berharap Indonesia menjadi
komunitas muslim yang pada masa depan bisa bersahabat dengan dunia. Itu
istilahnya mereka, katanya. Sedangkan ukuran AS adalah Indonesia bisa mengatur
diri, sehingga tak menjadi sarang “kekerasan.” Namun, menurut Muzadi, yang
cukup menggembirakan adalah tidak ada rencana AS sedikit pun untuk menyerang
Indonesia.