إذا دخل أحدكم المسجد فليصل ركعتين قبل أن يجلس
Artinya:
“Apabila kalian masuk masjid
hendaklah shalat dua raka’at sebelum duduk” (HR: Ibnu Majah)
Hadis ini menunjukan secara jelas
anjuran shalat tahiyatul masjid. Namun persoalannya, pada saat shalat jum’at,
khususnya setelah khatib naik mimbar,
sebagian orang seringkali merasa bingung untuk menentukan pilihan:
apakah mengerjakan shalat sunnah atau langsung duduk demi mendapatkan
kesunnahan menyimak khutbah.
Persoalan ini pernah melanda
seorang sahabat pada masa Rasulullah. Kebetulan pada waktu itu Rasulullah SAW
bertindak sebagai khatib jum’at. Dikarenakan datang terlambat, demi menyimak
khutbah keagamaan, sahabat tadi langsung duduk dan tidak shalat tahiyatul
masjid. Rasul pun akhirnya menegurnya. Beliau berkata:
صل ركعتين خفيفتين قبل أن تجلس
Artinya:
“Shalatlah kamu dua rakaat dengan
ringkas (cepat) sebelum duduk” (HR: Ibn Hibban)
Rasulullah SAW tetap memerintahkan
shalat dua raka’at sekalipun khutbah jum’at sedang berlangsung. Ini menunjukan
saking sunnah dan utamanya shalat tahiyatul masjid. Khusus bagi orang yang
terlambat, dianjurkan mempercepat shalatnya agar dapat mendengar khutbah
jum’at. Berdasarkan hadis ini, Imam al-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarah
al-Muhadzdzab mengatakan:
واما إذا دخل والإمام يخطب يوم الجمعة أو غيره فلا يجلس حتى يصلي التحية
ويخففها
“Apabila seorang masuk masjid dan
khatib sedang khutbah jum’at, hendaklah ia shalat tahiyatul masjid terlebih
dahulu dan mempercepatnya”
Dengan demikian, bagi orang yang
terlambat datang ke masjid pada hari jum’at, sementara khatib sudah naik
mimbar, kesunnahan shalat tahiyatul masjid tetap berlaku. Namun perlu
digarisbawahi, kesunnahan ini tidak berlaku pada saat shalat berjemaah, ketika
imam sudah takbir ataupun muadzzin sudah iqamah. Pada kondisi ini, dimakruhkan
melakukan shalat sunnah dan lebih baik langsung shalat berjemaah bersama imam.
Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)
