Berikhtiar menempuh proses pembelajaran diri
sendiri sehingga dapat menjadi hamba-Nya yang bisa punya rasa dan tidak hanya
bisa merasa punya
Dalam : Pembelajaran diri meningkatkan wawasan ilmu
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا (طه: 114)
“dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu
pengetahuan.” (QS. Tha Ha, 20
: 114)
ومَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً
فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي
الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ
يَحْذَرُونَ (التوبة: 122)
“Tidak
sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang).
Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang
untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan
kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat
menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah, 9 : 122)
فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ
صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا
حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ
الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ الأنعام: 125
“Barang siapa
yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia
melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang
dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi
sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan
siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-An’am, 6 : 125)
أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ
فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِنْ رَبِّهِ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ
اللَّهِ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (الزمر
“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah
hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya
(sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi
mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam
kesesatan yang nyata.” (QS. Az-Zumar, 39 : 22)
Selalu
memperhatikan diri sendiri (Muhasabah bi nafsih) Dalam :Hubungan fungsional kepada alam
lingkungan
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ
جَمِيعًا (البقرة: 29)
“Dia-lah Allah,
yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.” (QS. Al-Baqarah, 2 : 29)
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي
جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً (البقرة: 30)
“Ingatlah ketika Tuhanmu
berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang
khalifah di muka bumi.” (QS.
Al-Baqarah, 2 : 30)
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ
بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا
لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (الروم: 41)
“Telah nampak kerusakan di
darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah
merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka
kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum, 30 : 41)
الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ
ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ (شعب الإيمان 13/
401)
“Orang-orang yang memperoleh belas kasih adalah
mereka yang dikasihi Allah Yang Maha Pengasih. Kasihilah makhluk yang ada di
Bumi agar kalian dikasihi makhluk yang ada di langit.”(Syu’abu al-Iman, 13 :
401)
Selalu
memperhatikan diri sendiri (Muhasabah bi nafsih) Dalam :Hubungan horisontal kepada sesama
manusia
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا
ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ
مِنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ (آل عمران: 112)
“Mereka
diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang
kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka
kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan.” (QS. Ali
Imran, 3 : 112)
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً
لِلْعَالَمِينَ (الأنبياء: 107)
“Dan tiadalah
Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS.
Al-Anbiya’, 21 : 107)
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ
أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً
وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (الروم: 21)
“Dan di antara
tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari
jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS.
Ar-Rum, 30 : 21)
إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِنَفْسِكَ
عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ
(صحيح البخاري3/ 38)
“Sesungguhnya
kamu berkewajiban menunaikan hak-hak kepada Tuhanmu, kepada dirimu sendiri, dan
kepada keluargamu. Tunaikanlah setiap pemilik hak itu haknya masing-masing.”
(Shahih Bukhari, 3 : 38)
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ
لِأَخِيهِ – أَوْ قَالَ: لِجَارِهِ – مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ (صحيح مسلم 1/ 67)
“Tidaklah
(sempurna) iman salah seorang di antara kamu sebelum mencintai saudaranya –atau
Nabi saw bersabda : “mencintai tetangganya”- sebagaimana dia men cintai dirinya
sendiri.” (Shahih Muslim, 1 : 67)
Selalu
memperhatikan diri sendiri (Muhasabah bi nafsih) Dalam :Hubungan vertikal kepada Allah dan
Rasul-Nya
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا
ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ
مِنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ (آل عمران: 112)
“Mereka
diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang
kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka
kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan.” (QS. Ali
Imran, 3 : 112)
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي
لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا
أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ (الأنعام: 162، 163)
“Katakanlah: “Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan
matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian
itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama
menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al-An’am, 6 : 162-163)
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ .
ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً .
فَادْخُلِي فِي عِبَادِي. وَادْخُلِي جَنَّتِي
(الفجر: 27 – 30)
“Hai jiwa yang
tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka
masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS.
Al-Fajr, 89 : 27-30)
الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى. وَمَا
لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَى. إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ
الْأَعْلَى. وَلَسَوْفَ يَرْضَى. (الليل: 18
–
21)
“yang
menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada
seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi
(dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Maha
Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” (QS. Al-Lail, 92 : 18-21)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ
إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ
أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى (صحيح البخاري ـ م م
9/ 92)
“Dari Abu
Hurairah, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Semua umatku akan masuk surga kecuali
yang menolak.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah. Siapa yang dimaksud
dengan orang yang menolak itu ?” Jawab Rasulullah saw, “Barangsiapa yang taat
kepadaku masuk surga dan barangsiapa yang mendurhakai aku sungguh dia orang
yang menolak (masuk surga itu).” (Shahih Bukhari, 9 : 92)
Memberikan
manfaat kepada orang lain
وَالْعَصْر. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْ .
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا
بِالصَّبْرِ. (العصر: 1 – 3)
“Demi masa.
Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang
yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati
kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr, 103
: 1-3)
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ
أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ (فصلت: 46)
“Barang siapa
yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan
barang siapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan
sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba (Nya).” (QS. Fushshilat, 41
: 46)
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ
أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ (الجاثية: 15)
“Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh maka itu
adalah untuk dirinya sendiri, dan barang siapa mengerjakan kejahatan, maka itu
akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Jatsiyah, 45 : 15)
أحبُّ الناسِ إلى الله أنفعُهم للناس (جمع
الجوامع أو الجامع الكبير للسيوطي ص: 984)
“Manusia yang
lebih aku sukai kepada Allah adalah manusia yang memberikan manfaat kepada
sesamanya.” (Jam’u al-Jawami’ awi al-Jami’i al-Kabir, As-Suyuthi, hlm. 984)
خير الناس أنفعهم للناس (البيهقي والطبراني، كنوز
السنة النبوية ص: 78)
“Sebaik-baik
manusia adalah yang dapat memberikan manfaat bagi sesamanya.” (Baihaqi dan
Thabrani, Kunuzu as-Sunnati an-Nabawiyyah, hlm. 78)
الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ
– أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ – شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا
قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ
الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ (صحيح مسلم 1/ 63)
“Iman itu tujuh puluh tiga cabang lebih –atau enam puluh
tiga cabang lebih- maka puncak tertingginya ucapan : “La ilaha illallah”dan
tingkat terendahnya menyingkirkan duri (sesuatu yang dapat menyakiti orang
lain) dari jalan.” (Baihaqi dan
Thabrani, Kunuzu as-Sunnati an-Nabawiyyah, hlm. 78)
Berihtiar
Selalu memperhatikan diri sendiri (muhasabah bi nafsih)
وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
“… dan terhadap
dirimu apakah tidak kamu perhatikan ?” (QS. Adz-Dzariyat, 51 : 21)
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ
أَنْفُسَكُم
“Mengapa kamu
suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)
mu sendiri ….” (QS. Al-Baqarah, 2 : 44)
اِبْدَأْ بِنَفْسِك ثُمَّ بِمَنْ تَعُول
“Mulailah dari
dirimu sendiri, kemudian orang terdekatmu” (HR. Nasa’i)
إِذَا أَعْطَى اللَّهُ أَحَدَكُمْ خَيْرًا
فَلْيَبْدَأْ بِنَفْسِهِ وَأَهْلِ بَيْتِهِ
“Apabila Allah
memberikan kepada salah seorang di antaramu suatu kebajikan, mulailah
(mengamalkannya) dari dirimu sendiri dan anggota rumah tanggamu” (HR. Muslim)
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، أَنَّهُ قَالَ فِي
خُطْبَتِهِ: حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَزِنُوا
أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا (مصنف ابن أبي شيبة 7/ 96)
“Dari Umar bin Khaththab, bahwa beliau berkata dalam
khutbahnya : “Perhitungkan dirimu sebelum kamu diperhitungkan da n
pertimbangkan dirimu sebelum kamu dipertimbangkan.” (Ibnu Abu Syaibah, 7 : 96)
Berihtiar
menempuh proses pembelajaran diri sendiri sehingga dapat menjadi hamba-Nya yang
bisa punya rasa dan tidak hanya bisa merasa punya
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ .
أَيَحْسَبُ أَنْ لَنْ يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ . يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالًا
لُبَدًا . أَيَحْسَبُ أَنْ لَمْ يَرَهُ أَحَدٌ . أَلَمْ نَجْعَلْ لَهُ عَيْنَيْنِ
. وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ . وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ . فَلَا اقْتَحَمَ
الْعَقَبَةَ . وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ . فَكُّ رَقَبَةٍ. {أَوْ إِطْعَامٌ
فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ . يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ . أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ . ثُمَّ كَانَ
مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ .
(البلد: 4 – 18)
“Sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. Apakah manusia itu
menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? Dia
mengatakan: “Aku telah menghabiskan harta yang banyak”.Apakah dia menyangka
bahwa tiada seorang pun yang melihatnya? Bukankah Kami telah memberikan
kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan
kepadanya dua jalan. Maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) ia menempuh
jalan yang mendaki lagi sukar? Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi
sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada
hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang
miskin yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling
berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.” (QS.
Al-Balad, 90 : 4 – 18).
وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ
بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ (المائدة: 48)
“Tetapi Allah
hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah
berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu
diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” (QS.
Al-Maidah, 5 : 48)
وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا
إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
(البقرة: 148)
“Maka
berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti
Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah
Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah, 2 : 148)
ما آمن بي من بات شبعانا وجاره جائع إلى جنبه وهو
يعلم به (معجم الطبراني الكبير 17/ 171)
“Tidak beriman
kepadaku orang yang tidur dalam kekenyangan sedangkan tetangga dekatnya
kelaparan padahal dia mengetahuinya.” (Mu’jamu al-Kabir Ath-Thabrani, 17 : 171)