Rupanya banyak yang gagal paham
dengan keputusan "Bahtsul Masail" GP Ansor kemarin tentang
kepemimpinan non muslim. Ada yang mengatakan GP Ansor telah menyalahi keputusan
Bahtsul Masaail Muktamar NU tahun 1999 di Lirboyo. Ada lagi yang menyatakan
Bahtsul Masaail bukan kewenangan GP Ansor. Lembaga yang otoritatif untuk
mengeluarkan keputusan agama di NU adalah Lembaga Bahtsul Masaail NU. Bahkan
ada yang menuduh keputusan GP Ansor itu adalah pesanan cagub tertentu.
Begini. Saya adalah salah satu
peserta Bahtsul Masail tersebut. Jika mau mencermati secara utuh hasil
keputusan Bahtsul Masai GP Ansor, maka tidak ada satu kalimat pun yang
menyatakan bahwa GP Ansor membolehkan kepemimpinan non muslim. Kalimat yang ada
seperti ini:
"Sebagai warga negara yang
beragama (dalam ranah pribadi) boleh memilih atau tidak memilih non-Muslim
sebagai pemimpin formal pemerintahan. Karena kami melihat, hal ini sebagai
persoalan yang masih dalam tataran khilafiyah (debatable), sehingga masing-
;
masing pandangan yang menyatakan
wajib memilih Muslim maupun boleh memilih non- Muslim sebagai kepala
pemerintahan memiliki landasan dalam hukum Islam."
Forum Kiyai Muda GP Ansor
menyatakan bahwa soal kepemimpinan non muslim secara fiqh adalah masuk dalam
ranah khilafiah (debatable), bukan qoth'iyah. Karena itu, masing masing pihak
harus saling menghormati perbedaan pendapat ini. Alhasil tidak berhak menuduh
munafik apalagi kafir dalam persoalan yang masih diperdebatkan.
Munculnya keputusan GP Ansor
tersebut berdasarkan keprihatinan dengan kondisi politik DKI Jakarta yang
memanas. Dari tuduhan munafik dan kafir kepada pendukung Ahok dan penolakan
mengurus jenazah. Ini sungguh keterlaluan.
Menyeret agama dalam soal dukung
mendukung calon dalam pilgub ini tidak bijak, kalau tidak dikatakan keliru.
Mengapa? Karena berpotensi menimbulkan gesekan di tengah masyarakat. Apalagi
hingga memasang spanduk dan banner di masjid-masjid menolak mengurusi jenazah
pendukung calon non muslim karena dianggap munafik. Pengurusan jenazah secara
fiqh hukumnya adalah fardhu kifayah, lepas apapun pilihan politiknya.
Sembarangan menuduh seseorang
munafik, secara agama dan sosial ini sudah keliru besar. Munafik atau tidaknya
seseorang sepeninggal Rasulullah saw tidak ada yang bisa mendeteksi. Menuduh
seorang muslim sebagai munafik pun tidak main-main. Munafik itu artinya menyembunyikan
kekafiran. Bukan kah ini sama saja dengan menuduh kafir. Maka itu Imam Syafii
mengatakan, "nahnu nahkumu bizzhowahir wallahu yatawalla as-saroo-ir, kami
hanya menghukumi lahiriah, sedang persoalan batin adalah mutlak kekuasaan
Allah.
Persoalan kepemimpinan non muslim
adalah khilafiah-ijtihadiyah. Adalah tidak benar bila persoalan
khilafiah-ijtihadiyah ini membuat kita memvonis orang lain munafik.
Ingat, pembunuh Sayidina Ali bin
Abi Thalib, namanya Abdurrahman bin Muljam profilnya digambarkan oleh Al Imam
Jalaludin As-Suyuthi dalam Tarikh Al-Khulafa sebagai "hafizhul qur'an
(hafal Al Quran), Shoimun nahar (senantiasa berpuasa), qoimul lail (senantiasa
tahajjud). Dia ahli ilmu dan ibadah. Tapi mengapa dia menjadi begitu sadis dan
mudah menuduh kafir? Tak lain karena di dalam dadanya penuh dengan kebencian
dan fanatisme (merasa paling benar, tidak mau menerima pendapat orang lain).
Oleh: Muhammad Imaduddin

1 komentar so far
Bet365 Casino & Promos 2021 - JTM Hub
Full list of Bet365 Casino & Promos · Up to £100 https://jancasino.com/review/merit-casino/ in Bet Credits for new customers at bet365. https://deccasino.com/review/merit-casino/ Min deposit www.jtmhub.com £5. Bet Credits gri-go.com available for use 토토 upon settlement of bets to value of