Berkenaan dengan nikmat
surgawi dan siksaan-siksaan neraka yang akan mengikuti kehidupan ini, semua
orang yang percaya pada al-Qur'an dan Sunnah sudah cukup mengetahuinya. Tapi
ada suatu hal yang sering terlewatkan oleh mereka, yaitu bahwa ada juga suatu
surga ruhaniah dan neraka ruhaniah. Mengenai surga ruhaniah, Allah berfirman
kepada NabiNya, "Mata tidak melihat, tidak pula telinga mendengarnya, tak
pernah pula terlintas dalam hati manusia apa-apa yang disiapkan bagi
orang-orang yang takwa." Di dalam hati manusia yang tercerahkan ada sebuah
jendela yang membuka ke arah hakikat-hakikat dunia ruhaniah, sehingga ia
mengetahui - bukan dari kabar angin atau kepercayaan tradisional, melainkan
dengan pengalaman nyata - segala sesuatu yang menyebabkan kerusakan ataupun
kebahagiaan di dalam jiwa, persis sama jelas dan tegasnya sebagaimana seorang
dokter mengetahui apa yang menyebabkan penyakit ataupun menyehatkan tubuh. Ia
tahu bahwa pengetahuan tentang Allah dan ibadah bersifat mengobati, dan bahwa
kejahilan dan dosa adalah racun-racun maut bagi jiwa. Banyak orang, bahkan juga
yang disebut sebagai ulama, karena mengikuti secara membuta pendapat orang
lain, tidak mempunyai keyakinan yang sesungguhnya dalam iman mereka berkenaan
dengan kebahagiaan atau penderitaan jiwa di akhirat. Tetapi orang yang mau
mempelajari masalah ini dengan pikiran yang tak terkotori oleh prasangka akan
sampai pada keyakinan yang jelas tentang masalah ini.
Akibat kematian atas sifat
gabungan (komposit) manusia adalah sebagai berikut. Manusia punya dua jiwa,
jiwa hewani dan jiwa ruhani. Jiwa ruhani ini bersifat malaikat. Tempat jiwa
hewaniah adalah dalam hati, tempat dari mana jiwa ini menyebar seperti uap
halus dan menyelusupi semua anggota tubuh, memberikan tenaga atau kemampuan
melihat pada mata, mendengar pada telinga, serta kepada semua anggota tubuh
memberikan kemampuan untuk menyelenggarakan fungsi-fungsinya. Hal ini bisa
dibandingkan dengan sebuah lampu yang ditempatkan di dalam suatu pondok yang
cahayanya jatuh pada dinding-dinding ke mana pun ia pergi. Hati adalah sumbu
lampu ini, dan jika penyaluran minyaknya diputus karena suatu alasan, maka
matilah lampu itu. Seperti itulah kematian jiwa hewani. Tidak demikian halnya
dengan jiwa ruhani atau jiwa manusiawi. Ia tak terpilahkan dan dengannya
manusia mengenali Allah. Boleh dikatakan dialah pengendara jwa hewani. Dan
ketika jiwa hewani musnah, ia tetap tinggal, tetapi laksana seorang penunggang
kuda yang telah turun atau seperti seorang pemburu yan gtelah kehilangan
senjatanya. Kuda dan senjata-senjata itu dianugerahkan pada jiwa manusia agar dengan
itu semua ia bisa mengejar dan menangkap keabadian cinta dan pengetahuan
tantang Allah. Jika ia telah berhasil melakukan penangkapan itu, maka bukannya
berkeluh kesah, ia pun merasa lega ketika bisa menyingkirkan senjata-senjata
itu. Oleh karena itu Rasulullah saw. bersabda, "Kematian adalah suatu
hadiah Tuhan yang diharap-harapkan oleh para mukminin." Tapi celakalah
kalau jiwa itu kehilangan kuda dan senjata-senjata pemburuannya sebelum
berhasil memperoleh hadiah tersebut. Kesedihan dan penyesalannya akan tak
terperikan.
Pembahasan yang agak lebih
jauh akan menunjukkan betapa bedanya jiwa manusia dari jasad dan
anggota-anggotanya. Setiap anggota tubuh bisa rusak dan berhenti bekerja, tapi
individualitas jiwa tak terganggu. Lebih jauh lagi, jasad yang anda miliki
sekarang tidak lagi berupa jasad sebagaimana yang anda miliki pada waktu kecil,
melainkan sudah berbeda sama sekali. Meskipun demikian, kepribadian anda
sekarang ini sama dengan pada waktu itu. Karena itu, sangat mudahlah untuk
membayangkannya sebagai terus ada bersama-sama sifat-sifat esensialnya yang tak
tergantung pada tubuh, seperti pengetahuan dan cinta akan Tuhan. Inilah arti
ayat al-Qur'an, "hal-hal yang baik itu abadi." Tetapi, jika
sebaliknya daripada membawa pengetahuan bersama anda, anda malah menyeleweng
dalam kejahilan tentang Allah. Kejahilan ini juga merupakan suatu sifat
esensial dan akan tinggal abadi bagai kegelapan jiwa dan benih kesedihan. Oleh
karena itu, al-Qur'an berkata, "Orang yang buta di dalam hidup ini akan
buta di akhirat dan tersesat dari jalan yang lurus."
Alasan bagi kembalinya ruh
manusia yang sedang kita bicarakan ini merujuk ke dunia yang lebih tinggi
adalah bahwa ia berasal dari sana dan bahwa ia bersifat malaikat. Ia dikirim ke
ruang yang lebih rendah ini berlawanan dengan kehendaknya demi memperoleh
pengetahuan dan pengalaman, sebagaimana Allah berfirman di dalam al-Qur'an,
"Turunlah dari sini kamu semuanya, akan datang padamu perintah-perintah
dari-Ku dan siapa yang menaatinya tidak perlu takut dan tak perlu pula mereka
gelisah." Ayat: "Aku tiupkan ke dalam diri manusia ruh-Ku" juga
menunjukkan asal samawi jiwa manusia. Sebagaimana kesehatan jiwa hewani adalah
berupa kesimbangan dari bagian-bagian penyusunannya, dan keseimbangan ini bisa
dipulihkan jika mengalami gangguan, oleh obat-obat yang sehat, demikian pulalah
kesehatan jiwa manusia berbentuk suatu keseimbangan moral yang dipelihara dan
diperbaiki, jika dibutuhkan, oleh perintah-perintah etis dan ajaran-ajaran
moral.
Berkenaan dengan kemaujudan
dunia di masa yang akan datang, telah kita lihat bahwa jiwa manusia secara
esensial tak tergantung pada tubuh. Semua keberatan terhadap kemaujudannya
setelah kematian, didasarkan pada dugaan adanya keperluan akan pemulihan jasad
terdahulunya yang telah jatuh ke tanah. Beberapa ahli kalam menduga bahwa jiwa
manusia tak termusnahkan setelah mati, malah terpulihkan. Tetapi hal ini
sesungguhnya bertentangan baik dengan nalar maupun al-Qur'an. Yang disebut
terdahulu menunjukkan pada kita bahwa kematian tidak menghancurkan
individualitas esensial seorang manusia dan al-Qur'an berkata, "Jangan
kamu pikir orang-orang yang terbunuh du jalan Allah itu telah mati. Tidak!
Mereka masih hidup, bergembira dengan kehadiran Tuhan mereka dan di dalam
limpahan karunia atas mereka." Tidak satukata pun disebutkan di dalam
syariah tentang orang-orang mati, yang baik maupun jahat, sebagai termusnahkan.
Malah, Nabi saw. diriwayatkan telah bertanya kepada arwah orang-orang kafir
yang terbunuh tentang apakah mereka mendapati hukuman-hukuman yang diancamkan
kepada mereka sesuatu yang benar atau tidak. Ketika para pengikutnya bertanya
kepadanya apa gunanya bertanya kepada mereka, beliau menjawab: "Mereka
bisa mendengar kata-kataku lebih baik daripada engkau."
Beberapa orang sufi telah
dapat menampak dunia dan neraka yang tak kasat mata, diungkapkan kepada mereka
pada saat-saat mereka berada dalam keadan kerasukan (trance) seperti mati. Pada
saat pulihnya kesadaran, muka-muka mereka menggambarkan sifat ungkapan-ungkapan
yang telah mereka terima dengan tanda-tanda kegembiraan yang luar biasa ataupun
kepanikan. Tapi tidak perlu lagi visi untuk membuktikan kepada manusia-manusia
yang berpikir apa-apa yang akan terjadi. Yaitu ketika kematian telah mencabut
indera-inderanya dan meninggalkannya tanpa sesuatu apa pun kecuali kepribadian
telanjangnya, jika ketika di atas bumi ia terlalu asyik menyibukkan dirinya
dengan benda-benda cerapan indera - seperti isteri, anak, kekayaan, tanah,
budak laki-laki dan perempuan dan sebagainya - ia akan menderita ketika
kehilangan benda-benda ini. Sebaliknya, jika ia telah membalikkan punggung
sejauh-jauhnya dari semua benda-benda duniawi dan meneguhkan kasih sayangnya
yang amat besar terhadap Allah, ia akan menyambut kematian sebagai suatu sarana
untuk melarikan diri dari kerepotan-kerepotan duniawi dan bergabung dengan Ia
yang dicintainya. Dalam kasus ini, sabda Rasul akan akan terbukti:
"Kematian adalah jembatan yang menyatukan sahabat dengan sahabat";
"dunia ini surga bagi orang kafir, dan penjara bagi orang-orang
mukmin."
Di pihak lain, semua derita
yang ditanggung oleh jiwa setelah mati bersumber pada cinta yang
berlebih-lebihan terhadap dunia. Rasulullah bersabda bahwa semua oran gkafir
setelah mati akan disiksa oleh 99 ular, masing-masing memiliki 9 kepala.
Beberapa orang yang berpikiran sederhana telah memeriksa kuburan orang-orang
kafir ini dan bertanya-tanya mengapa mereka tak bisa melihat ular-ular ini.
Mereka tidak paham bahwa ular-ular ini bersemayam di dalam ruh orang-orang
kafir itu dan bahwa kesemuanya itu sudah ada di dlam diri orang-orang kafir
tersebut, bahkan sebelum ia mati. Karena semuanya itu sesungguhnya adalah
simbol-simbol sifat jahatnya, seperti cemburu, kebencian, kemunafikan,
kesombongan, kelicikan dan lain sebagainya. Sifat-sifat itu semuanya bersumber,
secara langsung maupun tidak, pada kecintaan terhadap dunia ini. Itulah neraka
yang disediakan bagi orang-orang yang di dlam al-Qur'an dikatakan
"meneguhkan hati mereka pada dunia ini lebih daripada akhirat". Jika
ular-ular itu sekadar bersifat eksternal belaka, mereka akan bisa berharap
untuk melarikan diri dari siksanya, meskipun hanya untuk sesaat saja. Tetapi
jika semuanya itu sudah menjadi sifat-sifat bawaan mereka, bagaimana mereka
bisa melarikan diri?. Ambillah contoh kasus seseorang yang menjual seorang
budak perempuan tanpa tahu seberapa jauh ia telah terikat dengannya sampai
ketika perempuan itu telah sama sekali berada di luar jangkauannya. Kemudian
kecintaan pada budak itu, yang selama ini tertidur, bangun di dalam dirinya
dengan suatu intensitas yang menyiksanya, menyengatnya seperti ular. Ia bisa
gila karenanya, mencapakkan dirinya ke dalam api atau air untuk melarikan diri
darinya. Inilah akibat cinta terhadap dunia, yang tidak pernah terbayang dalam
diri orang-orang yang memilikinya sampai ketika dunia direnggut dari mereka dan
kemudian siksaan kesia-siaan membuat mereka mau dengan senang hati menukarnya
dengan sekadar ular-ular dan kepiting-kepiting eksternal belaka, berapa pun
jumlahnya. Karenanya, setiap orang yang berbuat dosa membawa perkakas-perkakas
hukumannya sendiri ke dunia di balik kematian. Benar kata al-Qur'an:
"Sesungguhnya kalian akan
melihat neraka. Kalian akan
melihatnya dengan mata keyakinan (ainul-yaqin)", dan "neraka
mengitari orang-orang kafir." Ia tidak berkata akan mengitari mereka,
karena neraka sudah mengitari mereka sekarang juga.
Mungkin ada orang yang
berkeberatan. Jika demikian halnya, kemudian siapakah yang bisa menghindar dari
neraka, karena siapakah orang yang sedikit banyak tidak terikat pada dunia
dengan berbagai ikatan kesenangan dan kepentingan. Atas pertanyaan ini kita
menjawab bahwa ada orang-orang, terutama para faqir, yang telah sama sekali
melepaskan diri mereka dari cinta terhadap dunia. Tetapi bahkan di antara
orang-orang yang memiliki kekayaan-kekayaan duniawi - seperti isteri, anak,
rumah dan lain sebagainya - masih ada juga orang-orang yang, meskipun mereka
memiliki kecintaan terhadap benda-benda ini, mencintai Allah lebih dari
segalanya. Kasus mereka adalah seperti seseorang yang, meskipun mempunyai
sebuah tempat tinggal yan gia cintai di suatu kota, ketika diminta oleh sang
raja untuk mengisi suatu pos kekuasaan di kota lain, ia melakukannya dengan
senang hati, karena pos kekuasaan itu lebih berharga baginya daripada tempat
tinggalnya terdahulu. Para nabi dan banyak di antara para wali adalah
orang-orang seperti itu.
Dalam jumlah besar, ada
pula orang-orang lain yang memiliki kecintaan pada Allah, tetapi kecintaannya
terhadap dunia ini demikian berlebihan dalam diri mereka sehingga mereka akan
harus menderita siksaan yang cukup besar setelah kematian sebelum mereka sama
sekali terbebaskan daripadanya. Banyak yang memiliki kecintaan kepada Allah,
tapi seseorang bisa dengan mudah menguji dirinya dengan melihat ke mana cenderungnya
lengan timbangan cintanya ketika perintah-perintah Allah datang berbenturan
dengan beberapa keinginannya. Pemilikan akan cinta kepada Allah yang tidak
cukup menahan seseorang dari pembangkangan kepada Allah adalah suatu
kebohongan.
Telah kita lihat di atas
bahwa salah satu jenis neraka ruhani itu berbentuk pemisahan secara paksa dari
benda-benda duniawi yang kepadanya hati terikat terlalu erat. Banyak orang yang
tanpa sadar membawa dalam dirinya kuman-kuman neraka seperti itu. Mereka akan
merasa seperti seorang raja yang setelah menjalani hidup mewah, dicampakkan
dari singgasananya dan menjadi bahan tertawaan.
Jenis kedua neraka ruhani
adalah malu, yaitu ketika seseorang dibangunkan untuk melihat sifat
tindakan-tindakan yang dulu dilakukannya dalam hakikat telanjangnya. Orang yang
mengumpat akan melihat dirinya dalam bentuk seorang kanibal yang makan daging
saudaranya yang telah mati. Orang yang mempunyai sifat iri hati akan tampak
sebagai seseorang yang melemparkan batu-batu ke dinding, kemudian batu-batu itu
memantul kembali dan mengenai mata anaknya sendiri.
Neraka jenis ini, yaitu
malu, bisa disimpulkan dengan perumpamaan ringkas berikut ini. Misalkan seorang
raja baru selesai merayakan perkawinan anak laki-lakinya. Pada malam harinya,
laki-laki muda itu pergi keluar dengan beberapa orang sahabat dan kemudian
kembali ke istana dalam keadaan
mabuk. Ia memasuki sebuah
kamar yang terang dan kemudian berbaring di samping tubuh yang diduganya
sebagai mempelai wanitanya. Pagi harinya, ketika kesadarannya pulih, ia
terperanjat ketika mendapati dirinya berada di dalam sebuah kamar mayat para
penyembah-api. Sofanya adalah tandu jenazah, dan bentuk yang
disalah-mengertikannya sebagai mempelai perempuannya adalah mayat seorang
wanita tua yang mulai membusuk. Ketika keluar dari kamar mayat dengan pakaian
kumuh, betapa malunya ia ketika ayahnya, sang raja, menghampirinya dengan
serombongan tentara. Itu gambaran perumpamaan tentang rasa malu yang akan
dirasakan di akhirat oleh orang-orang yang dengan serakah telah memasrahkan
diri mereka pada hal-hal yang mereka anggap sebagai kebahagiaan.
Neraka ruhaniah ketiga
berbentuk kekecewaan dan kegagalan untuk mencapai obyek kemaujudan yang
sesungguhnya. Manusia diciptakan dengan maksud untuk mencermini cahaya
pengetahuan akan Tuhan. Tapi jika ia sampai di akhirat dengan jiwa yang
tersaput tebal oleh karat pengumbaran nafsu inderawi, ia akan sama sekali gagal
untuk memperoleh tujuan penciptaannya. Kekecewaannya bisa digambarkan dengan
cara berikut. Misalkan seseorang sedang melewati sebuah hutan gelap bersama
beberapa orang sahabat. Di sana-sini berkelap-kelip di atas tanah, bertebaran
batu-batu berwarna. Para sahabatnya mengumpulkan dan membawa benda-benda itu
seraya menasehatinya agar ia turut melakukan hal yang sama. "Karena,"
kata mereka, "kami dengar batu-batu itu akan memperoleh harga tinggi di
tempat yang akan kita datangi." Tapi orang ini malah menertawakan mereka
dan menyebut mereka sebagai orang-orang pandir karena menyimpan harapan sia-sia
untuk memperoleh sesuatu, sementara ia sendiri bisa berjalan bebas tak
berbebani. Kemudian mereka pun menjelang terang tanah dan mendapati bahwa
batu-batu yang berwarna-warni itu ternyata batu-batu delima, Zamrud dan
permata-permata lain yang tak terkira harganya. Kekecewaan dan penyesalan orang
itu, karena tidak mengumpulkan benda-benda yang sudah berada dalam jangkauannya
itu, lebih mudah dibayangkan daripada diperikan. Seperti itulah jadinya
penyesalan orang-orang yang ketika melalui duni aini tidak berusaha memperoleh
permata-permata kebajikan dan perbendaharaan-perbendaharaan agama.
Perjalanan manusia di dunia
ini bisa dikelompokkan dalam empat tahap - yang inderawi, eksperimental,
instingtif dan rasional. Dalam tahap yang pertama ia seperti seekor rayap yang,
meskipun memiliki penglihatan, tak punya kemampuan mengingat dan akan
menghapuskan dirinya terus-menerus pada lilin yang sama. Tahap kedua, ia
seperti seekor anjing yang, setelah sekali digigit, akan lari ketika melihat
sebatang rotan pemukul. Pada tahap ketiga, ia seperti seekor kuda atau domba
yang, secara instingtif, terbang seketika tatkala melihat seekor macan atau
srigala - musuh-musuh alaminya - sementara mereka tak akan lari jika melihat
seekor onta atau kerbau, meskipun kedua binatang ini lebih besar ukurannya. Di
dalam tahap yang keempat manusia sama sekali mengatasi batas-batas binatang itu
sehingga mampu, sampai batas tertentu, meramalkan dan mempersiapkan diri bagi
masa depan. Gerakan-gerakannya pada mulanya bisa dibandingkan dengan berjalan biasa
di atas tanah, kemudian menyeberangi laut dengan sebuah kapal, kemudian pada
pendaratan keempat - ketika ia sudah akrab
dengan hakikat-hakikat -
berjalan di atas air. Sementara itu, di balik dataran ini masih ada dataran
kelima yang dikenal oleh para nabi dan wali yang bisa dibandingkan dengan
terbang mengarungi udara.
Jadi manusia punya
kemampuan untuk dada pada berbagai dataran yang berbeda, mulai dari dataran
hewaniah sampai dataran malaikat. Dan persis dalam hal inilah terletak
bahayanya, yaitu dari kemungkinan jatuh ke dataran yang paling rendah. Di dalam
al-Qur'an tertulis, "Telah Kami tawarkan (yaitu tanggung jawab atau
kehendak bebas) kepada lelangit dan bumi serta gunung-gunung; mereka menolak
untuk menanggungnya. Tetapi manusia mau mananggungnya. Sesungguhnya manusia itu
bodoh." Tidak hewan tidak pula malaikat bisa mengubah tingkat dan tempat
ia ditempatkan. Tetapi seseorang bisa tenggelamke dataran hewaniah atau terbang
ke dataran malaikat, dan inilah arti dari "penanggungan beban" sebagaimana
disebutkan di atas oleh al-Qur'an. Sebagian besar manusia memilih untuk berada
di dua tahap terndah tersebut di atas, dan yang tetap tinggal biasanya selalu
bersikap bermusuhan dengan orang yang bepergian atau musafir yang jumlahnya
jauh lebih sedikit.
Banyak orang dari kelas
yang disebut terdahulu, karena tidak memiliki keyakinan yang teguh tentang
dunia yang akan datang, ketika dikuasai oleh nafsu-nafsu inderawi, menolaknya
sama sekali. Mereka berkata bahwa neraka adalah suatu temuan para ahli ilmu
kalam belaka untuk menakut-nakuti orang. Mereka memandang para ahli ilmu kalam
dengan penghinaan terbuka. Berbdebat dengan orang-orang seperti ini sedikit
sekali manfaatnya. Meskipun demikian, ada yang bisa dikatakan pada orang yang
seperti ini yang mungkin bisa membuatnya berhenti dan merenung. "Benarkah
anda sungguh-sungguh berpikir bahwa 124.000 nabi dan wali yang percaya pada
kehidupan masa akan datang semuanya salah dan anda, yang menolaknya,
benar?" Jika ia menjawab, "Ya," saya sedemikian yakin -
sebagaimana saya yakin bahwa dua lebih besar daripada satu - bahwasanya jiwa
dan kehidupan masa depan dalam bentuk kebahagiaan maupun hukuman itu tidak ada,
maka manusia seperti itu sudah tidak mempunyai harapan lagi. Yang bisa
diperbuat hanyalah meninggalkannya sendiri sembari mengingat kata-kata
al-Qur'an, "Meskipun kau peringatkan mereka, mereka tak akan ingat."
Tetapi jika ia berkata
bahwa kehidupan masa depan adalah suatu kebolehjadian, hanya bahwa doktrin itu
penuh mengandung keraguan dan misteri, sehingga tidak mungkin untuk bisa
memutuskan benarkah hal itu atau tidak, maka seseorang bisa berkata kepadanya,
"Jika demikian, sebaiknya anda selesaikan baik-baik keraguan itu."
Misalkan anda sedang akan makan makanan, kemudian seseorang berkata kepada anda
bahwa seekor ular telah meludahkan bisa ke dalamnya, maka mungkin sekali anda
akan menahan diri dan lebih baik menahan kepedihan rasa lapar daripada
memakannya, meskipun orang yang memberi informasi pada anda mungkin hanya
bercanda atau berbohong belaka. Atau misalkan anda sedang sakit dan seorang
penulis syair berkata, "Beri saya satu dirham dan saya akan menulis sebuah
puisi yang bisa kauikatkan di lehermu, yang akan menyembuhkannya dari
sakit." Anda boleh jadi akan memberikan dirham yang dimintanya dengan
harapan bisa mendapatkan manfaat jimat itu. Atau jika seoran gperamal
berkata, "Pada saat
bulan telah sampai ke suatu bentuk tertentu, minumlah obat ini dan itu dan
engkau pun akan sembuh." Meskipun mungkin anda sedikir sekali percaya pada
astrologi, kemungkinan besar anda akan mencoba juga pengalaman itu dengan
harapan bahwa orang itu benar. Tidakkah anda berpikir bahwa kebenaran yang bisa
dipercaya juga terdapat dalam kata-kata nabi, para wali dan orang-orang suci,
yang menyakinkan orang akan adanya kehidupan mendatang, sebagaimana janji
seorang penulis jampi-jampi atau seorang peramal. Orang berani melakukan
perjalanan lewat laut yan gpenuh resiko demi mengharap suatu keuntungan, maka
tidak maukah anda menanggung sedikir penderitaan di masa sekarang demi
kebahagiaan abadi di akhirat?
Sayyidina Ali Zainal Abidin
(Putra Hesain bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah SAW) ketika berdebat
dengan seorang kafir pernah berkata, "Jika anda benar, maka tidak seoran
gpun di antara kita yang akan menderita keadaan yang lebih buruk di masa depan.
Tetapi jika kami yang benar, maka kami akan terhindar dan anda akan
menderita." Hal ini dikatakannya bukan karena ia sendiri berada dalam
keraguan, tetapi hanya demi menciptakan suatu kesan bagi orang kafir itu.
Berdasar semua pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa urusan utama manusia
di dunia ini adalah untuk mempersiapkan diri bagi dunia yang akan datang.
Sekalipun jika ia ragu-ragu tentang kemaujudan masa depan, nalar mengajarkan
bahwa ia harus bertindak seakan-akan hal itu ada dengan mempertimbangkan akibat
luar biasa yang mungkin terjadi. Keselamatan atas orang-orang yang mengikuti
ajaran-ajaran Allah.